JAKARTA - Pemerintah Indonesia terus mempercepat agenda transisi energi nasional melalui berbagai langkah strategis, mulai dari pengembangan energi terbarukan skala besar hingga adopsi teknologi rendah emisi di sektor transportasi dan industri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah sedang melaksanakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Salah satu program utama yang saat ini sedang didorong adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas hingga 100 gigawatt (GW). Proyek ini merupakan bagian dari upaya perluasan penggunaan energi bersih di seluruh Indonesia.
“Transisi energi kita bergerak dengan kecepatan penuh. Kita sedang membangun pembangkit listrik tenaga surya 100GW,” kata Presiden Prabowo dalam pidatonya pada KTT Khusus Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Filipina East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di Cebu, Filipina, Kamis (7/5).
Bahlil menambahkan bahwa seluruh program ini akan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional untuk memastikan target transisi energi dapat tercapai secara berkelanjutan.
“Kami juga mendorong penggunaan energi surya melalui pengembangan PLTS 100GW untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil. Tentu hal ini akan membutuhkan kolaborasi dari banyak pihak untuk menyelesaikan tugas tersebut,” ujarnya, dikutip dari rilis resmi di esdm.go.id pada Jumat (8/5).
Selain pengembangan energi surya, pemerintah juga mempromosikan sumber energi alternatif seperti hidrogen, amonia, dan tenaga nuklir sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi masa depan.
Dari sisi konsumsi, pemerintah memperluas elektrifikasi melalui kendaraan listrik (EV) dan penggunaan kompor induksi untuk mengurangi ketergantungan rumah tangga pada bahan bakar fosil.
Langkah lainnya mencakup kebijakan efisiensi energi, moratorium pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara baru, serta pengembangan teknologi penangkapan karbon seperti CCS dan CCUS untuk mengurangi emisi dari sektor industri dan pembangkit listrik.
Di tengah meningkatnya permintaan energi dan tantangan perubahan iklim global, negara-negara ASEAN semakin melirik energi bersih sebagai masa depan kawasan.
Bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, transisi menuju energi terbarukan bukan lagi sekadar konsep, melainkan langkah strategis menuju pembangunan ketahanan energi regional dan mewujudkan kemakmuran yang lebih inklusif.
Presiden Prabowo mengatakan ASEAN memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan, mulai dari tenaga air, surya, dan angin hingga lahan subur yang masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Ia mengatakan potensi ini merupakan salah satu aset kunci kawasan dalam mendukung transisi energi di seluruh subwilayah.
“Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak atas potensi tersebut. Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN,” kata Presiden.
Ia juga menyoroti berbagai peluang pengembangan energi alternatif, termasuk proyek tenaga air di Borneo (Kalimantan), perluasan proyek energi surya di Palawan, dan pemanfaatan energi angin di kawasan pesisir. (DK/ZH)