CV AGI DIGITAL ARSITEK
Berita & Inovasi / Wawasan

Profesor Yale: Artificial General Intelligence (AGI) tidak akan menghapus seluruh pekerjaan manusia

Profesor Yale, Robert Shiller, membahas dampak AGI terhadap tenaga kerja global dan mengapa intuisi manusia tetap tak tergantikan.

JAKARTA – Ketakutan konvensional bahwa artificial general intelligence (AGI) akan mengambil alih seluruh pekerjaan manusia kini ditantang oleh penelitian terbaru.

Pascual Restrepo, Associate Professor Ekonomi di Yale University yang sebelumnya melakukan riset bersama peraih Nobel Daron Acemoglu, berpendapat bahwa sebagian besar pekerjaan manusia tidak akan terotomatisasi di era AGI.

Dalam working paper yang diterbitkan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) berjudul “We Won’t Be Missed: Work and Growth in the AGI World”, Restrepo menyimpulkan bahwa AGI tidak membuat keterampilan manusia menjadi usang, melainkan menilai kembali nilai dari keterampilan tersebut.

Alasan utamanya bukan karena kecerdasan buatan tidak mampu, melainkan karena sebagian besar pekerjaan manusia dianggap tidak cukup penting atau tidak layak untuk menghabiskan sumber daya komputasi yang diperlukan guna menggantikannya.

Sebagaimana dikutip dari finance.yahoo.com (04/04/2026), Restrepo membagi pekerjaan dalam ekonomi berbasis AI menjadi dua kategori.

Kategori pertama adalah bottleneck work, yaitu pekerjaan yang esensial bagi pertumbuhan ekonomi, seperti produksi energi, pemeliharaan infrastruktur, kemajuan ilmiah, keamanan nasional, pengurangan risiko eksistensial, menghadapi ancaman asteroid, dan penguasaan energi fusi. Tugas-tugas tingkat tinggi ini akan sepenuhnya diotomatisasi oleh komputasi.

Kategori kedua adalah supplementary work, seperti seni, kerajinan, layanan pelanggan, perhotelan, desain, riset akademik, bahkan ekonomi profesional. Karena ekonomi dapat terus berkembang tanpa peran-peran ini, AI akan mengabaikannya akibat tingginya biaya untuk mereplikasi unsur sosial manusia.

Dalam jangka panjang, total sumber daya komputasi dalam ekonomi diproyeksikan mencapai 10⁵⁴ floating‑point operations per second (flops), menjadikan gabungan daya komputasi seluruh otak manusia — hanya sekitar 10¹⁸ flops — tidak signifikan secara ekonomi.

Meski manusia diperkirakan tetap mempertahankan pekerjaan tambahan, Restrepo memperingatkan bahwa bertahan dari otomatisasi bukan berarti mendapat manfaat dari pertumbuhan ekonomi. Dalam dunia pasca‑AGI, upah akan terlepas dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan porsi tenaga kerja terhadap PDB akan menyusut mendekati nol karena sebagian besar pendapatan mengalir ke entitas pemilik sumber daya komputasi.

Kekhawatiran tentang distribusi kekayaan ini sejalan dengan surat tahunan CEO BlackRock, Larry Fink, yang memperingatkan bahwa AI akan memusatkan kekayaan di tangan segelintir orang.

Fink mencatat bahwa 1 persen rumah tangga teratas di AS kini menguasai lebih banyak kekayaan dibandingkan gabungan 90 persen terbawah, sementara 40 persen orang Amerika hampir tidak memiliki eksposur ke pasar modal.

Fink mengusulkan solusi seperti tokenisasi dan perluasan investasi pensiun, sementara Restrepo menawarkan gagasan pendapatan universal atau memperlakukan komputasi sebagai sumber daya publik layaknya tanah.

Terkait transisi menuju masa depan tersebut, Restrepo mengidentifikasi dua mode: compute‑binding transitions, di mana adopsi terjadi secara bertahap, dan algorithm‑binding transitions, yang melompat tiba‑tiba dan memicu ketidaksetaraan ekstrem. Fase kedua saat ini sedang berlangsung di Amerika Serikat pada 2026, di mana pekerja teknis mengalami lonjakan premi upah.

Data dari platform rekrutmen AI, Skillit, menunjukkan bahwa pekerja konstruksi pusat data kini memperoleh rata-rata US$81.800 per tahun, 32 persen lebih tinggi dibandingkan proyek biasa. Beberapa teknisi listrik bahkan menghasilkan hingga US$260.000 per tahun, dengan pekerjaan kelistrikan menyumbang 45 hingga 70 persen dari total biaya konstruksi pusat data.

Amerika Serikat diproyeksikan membutuhkan 300.000 teknisi listrik baru dalam dekade mendatang untuk menggantikan 200.000 yang diperkirakan pensiun.

Secara agregat, Restrepo berpendapat bahwa total pendapatan tenaga kerja dalam dunia pasca‑AGI tetap lebih tinggi dibandingkan baseline sebelumnya, sehingga populasi tidak akan menjadi lebih miskin.

Namun, judul makalahnya membawa pesan eksistensial yang tajam. Jika ekonomi saat ini akan runtuh bila separuh tenaga kerja tidak hadir, dalam dunia AGI hilangnya pekerja manusia tidak akan dirasakan dan tidak akan menghambat aktivitas ekonomi.

Pada akhirnya, bagi sebagian besar pekerja, pertanyaannya bukan apakah AI akan mengambil pekerjaan mereka, melainkan kesadaran bahwa pekerjaan mereka mungkin tidak pernah cukup penting untuk digantikan. (DH/LM)